Eksistensi Timur dan Luka Invisibel Jadi Napas Empat Karya Terbaru Nurangsih
NASIONAL
Jakarta – Akademisi sekaligus penulis Nurangsih S. Hasan kembali menunjukkan produktivitasnya di dunia literasi nasional. Ia bersiap meluncurkan empat buku terbaru yang tidak hanya menjadi catatan akademik, tetapi juga cerminan kegelisahan intelektual terhadap dinamika sosial, moral, dan representasi budaya di Indonesia.
Dari empat karya yang akan diperkenalkan kepada publik, tiga di antaranya telah resmi diumumkan judulnya. Pertama, buku berjudul Pendidikan Karakter VS Konten: “Pertarungan Moral di Tengah Dunia yang Haus Viral” . Karya yang ditulis bersama Ketua Yayasan UNUTARA, Asmra Bani, dan Wakil Rektor II UNUTARA, Saleh Alhadad, ini menyoroti krisis pendidikan karakter yang kian tergerus oleh arus digital dan budaya viral yang instan.Selasa(8/9/2026)
Kedua, Timur dalam Hikayat menghadirkan perspektif baru tentang kawasan Indonesia Timur. Buku ini mengajak pembaca untuk tidak memandang Timur sekadar sebagai label geografis, melainkan sebagai ruang yang kaya akan sejarah, identitas, budaya, dan ingatan kolektif yang layak mendapatkan porsi utama dalam narasi kebangsaan.
Ketiga, Diam-Diam Hancur, Diam-Diam Bertahan mengangkat realitas emosional yang sering luput dari sorotan. Buku ini menarasikan sisi gelap manusia berupa luka tak terlihat, perjuangan senyap, serta keberanian untuk tetap eksis di tengah ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan hidup.
Sementara itu, satu judul lainnya masih sengaja dirahasiakan oleh sang penulis. Nurangsih menyebut bahwa buku keempat tersebut akan menjadi elemen kejutan yang baru akan dibongkar isinya pada momen peluncuran resmi.
Menurut Nurangsih, kehadiran keempat buku ini bukan sekadar tumpukan kertas berisi kata. Baginya, sebuah buku seharusnya menjadi ruang refleksi, medium dialog, dan alat untuk mereka ulang zaman. “Tulisan bukan sekadar kata-kata, tetapi cara menyuarakan yang sunyi, merawat ingatan, dan meninggalkan jejak bagi generasi berikutnya,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.
Peluncuran empat buku ini dinilai menjadi momentum penting bagi dunia literasi dan pendidikan nasional, mengingat cakupan tema yang diusung mulai dari tantangan moral generasi muda, penguatan identitas kewilayahan, hingga kesehatan mental, yang semuanya merupakan isu hangat di tengah masyarakat saat ini.(Fahmi/TI)