Film “Pesta Babi” di Ternate Berlangsung Aman.
DAERAH
Ternate – Pemutaran film dokumenter Pesta Babi yang digelar secara nonton bareng (nobar) di Yu’Caffe, Perumnas, Kota Ternate, pada Sabtu malam (pukul 20.00 WIT–selesai) berjalan lancar tanpa intervensi aparat. Acara yang diselenggarakan oleh kawan-kawan Pers ini dihadiri aktivis, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Maluku Utara, serta masyarakat umum.
Menariknya, nobar ini menjadi salah satu yang “aman” di tengah sejumlah pembubaran serupa di wilayah Ternate. Sebelumnya, kegiatan nobar film yang sama dua kali dibubarkan aparat, termasuk yang terakhir dilakukan oleh mahasiswa pecinta alam (Mapala) di kampus Universitas Khairun (Unhair).
Usai pemutaran, Suarez yang mewakili LBH Maluku Utara menyebut film Pesta Babi tidak biasa. Menurutnya, karya yang berbentuk riset visual fakta ini layak disebut sebagai disertasi jika dituangkan dalam bentuk tulisan.
“Ini tidak bisa kita abaikan. Ada soal biodiesel dan bioetanol yang mengharuskan adanya lahan untuk tanaman pengganti bahan bakar fosil. Artinya, ada pihak yang diuntungkan, tapi ada pula yang dikorbankan, yaitu ekososial. Lingkungan tidak terlepas dari hak asasi manusia,” ujar Suarez.
Ia menambahkan, dalam relasi ekologi, negara menghendaki kemajuan dan kekayaan. Namun, yang sering menjadi korban adalah civil society, terutama masyarakat adat dan komunitas primitif yang tidak memiliki legitimasi kepemilikan tanah bersertifikat.
“Masuknya perusahaan dan investasi asing pasti berbenturan dengan hak masyarakat adat. Ini tercermin dari betapa kejamnya kepentingan negara di tanah Papua, yang mengorbankan banyak hak adat masyarakat Papua,” tegasnya.
Jurnalis Fahmi Mukmin yang turut hadir mengungkapkan rasa syukurnya karena nobar berjalan baik hingga selesai tanpa pembubaran dari aparat.
“Ini mungkin nobar yang aman, karena sempat viral di Maluku Utara, tepatnya Kota Ternate, sudah dua kali dibubarkan. Yang terakhir kemarin, anak-anak Mapala yang menyelenggarakan nobar di kampus Unhair dibubarkan,” jelas Fahmi.
Salah satu penonton, Nia, yang juga aktivis lingkungan, mengatakan film Pesta Babi sangat menarik untuk ditonton. Ia berharap masyarakat luas bisa menyaksikan dan memahami pesan di balik film tersebut.
Nobar ini menjadi peristiwa penting di tengah ketegangan antara kebebasan berekspresi dan kepentingan negara, sekaligus menyoroti isu ekologi, hak asasi manusia, serta nasib masyarakat adat di Indonesia.(TIM/TI)