Ekshumasi Sutrimo: Dr. Sumy Hastry Duga Asfiksia, Uji Lab Jadi Penentu
DAERAHBanyumas – Hasil ekshumasi dan pemeriksaan forensik terhadap jenazah Sutrimo mulai memberikan petunjuk mengenai penyebab kematiannya. Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Forensik dan Medikolegal Indonesia (PDFMI), Brigjen Pol Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, Sp.FM., mengungkapkan adanya indikasi awal yang mengarah pada asfiksia atau kondisi kekurangan oksigen yang menyebabkan kematian.
Meski demikian, Sumy menegaskan dugaan tersebut belum dapat menjadi kesimpulan akhir. Hasil pemeriksaan laboratorium, terutama toksikologi dan histopatologi, masih diperlukan untuk memastikan penyebab kematian Sutrimo secara ilmiah.
Sumy menjelaskan, indikasi asfiksia diperoleh dari analisis terhadap kondisi jenazah, foto ketika Sutrimo pertama kali ditemukan, serta keterangan saksi di lokasi.
Salah satu petunjuk yang menjadi perhatian adalah kondisi celana yang dikenakan Sutrimo saat ditemukan dalam keadaan basah.
Dalam patologi forensik, hipoksia berat pada fase menjelang kematian dapat menyebabkan relaksasi otot sfingter. Kondisi tersebut memungkinkan keluarnya urin, feses, maupun cairan tubuh secara spontan.
“Tanda-tanda asfiksia dapat berupa keluarnya buih, air seni, feses, serta perubahan warna kebiruan pada bagian tubuh tertentu,” jelas Sumy.
Menurutnya, asfiksia dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Kondisi tersebut bisa terjadi karena faktor alamiah, seperti komplikasi penyakit, maupun faktor nonalamiah, termasuk kemungkinan paparan zat beracun.
Sementara itu, dari pemeriksaan fisik luar dan struktur tulang, tim forensik disebut tidak menemukan tanda-tanda kekerasan fisik9 maupun patah tulang.
Kendati terdapat indikasi awal asfiksia, tim forensik masih harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menentukan penyebab kematian secara pasti.
Pemeriksaan menjadi lebih kompleks karena jenazah Sutrimo telah dimakamkan selama lebih dari dua minggu. Proses dekomposisi menyebabkan jaringan dan organ tubuh mengalami pembusukan sehingga sejumlah tanda penting sulit dinilai hanya melalui pemeriksaan visual.
Untuk memastikan penyebab kematian, tim mengambil sejumlah sampel untuk pemeriksaan toksikologi dan histopatologi. Sampel tersebut antara lain berasal dari jaringan organ internal, cairan bola mata, kuku, akar rambut, serta tanah di sekitar makam sebagai pembanding dalam pemeriksaan toksikologi.
“Kalau memang jenis racun arsenik, biasanya masih bisa ketemu di sekitar tanah karena luruh dari tubuh selama proses pembusukan,” ujar Sumy.
Sampel-sampel tersebut saat ini diperiksa secara terpisah dan independen di tiga laboratorium berbeda.
Hasil pemeriksaan toksikologi dan histopatologi nantinya akan menjadi dasar penting untuk mengetahui apakah dugaan asfiksia berkaitan dengan kondisi medis atau faktor lain, termasuk kemungkinan paparan zat beracun.
Di tengah proses pemeriksaan tersebut, keluarga Sutrimo masih menunggu kepastian mengenai penyebab kematian almarhum.
Selain mempertanyakan lamanya hasil pemeriksaan, keluarga juga sempat menanyakan keberadaan sejumlah barang pribadi milik Sutrimo, seperti ponsel, pakaian, dan dompet, yang disebut belum diserahkan sejak jenazah diantar ke rumah duka.
Proses ekshumasi dan autopsi ulang Sutrimo sendiri melibatkan tim gabungan lintas lembaga, termasuk ahli forensik dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Diponegoro (Undip), serta RS Polri.
Tim forensik meminta keluarga dan masyarakat bersabar menunggu hasil pemeriksaan. Terlebih, pemeriksaan terhadap jenazah yang telah mengalami proses pembusukan membutuhkan waktu lebih panjang untuk mendapatkan hasil yang akurat.
Dengan demikian, asfiksia saat ini masih sebatas dugaan atau indikasi awal. Kepastian penyebab kematian Sutrimo tetap menunggu hasil uji laboratorium toksikologi dan histopatologi. (Tim/ TI)
