Busa di Mulut dan Riwayat Diabetes: Penjelasan Forensik Terkait Kematian Sutrimo
DAERAH
Banyumas – Temuan busa putih di sekitar mulut Sutrimo menjadi salah satu hal yang turut diperhatikan dalam proses penyelidikan kematian warga Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah tersebut.
Sutrimo meninggal dunia di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Untuk memastikan penyebab kematiannya, Polda Metro Jaya bersama Polresta Banyumas melakukan ekshumasi terhadap makam Sutrimo di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Wlahar.
Pemeriksaan dilakukan sebagai bagian dari scientific crime investigation. Tim Kedokteran Forensik Polda Metro Jaya melakukan pemeriksaan terhadap jenazah dan mengambil sejumlah sampel organ untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium.
Dalam konteks pemeriksaan forensik, keberadaan cairan atau busa pada mulut tidak dapat secara langsung diartikan sebagai tanda keracunan ataupun kekerasan. Kondisi tersebut dapat muncul akibat sejumlah faktor medis, sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya.
Salah satu kemungkinan medis yang dapat berkaitan dengan munculnya cairan berbusa adalah edema paru atau penumpukan cairan di paru-paru. Kondisi tersebut dapat terjadi pada sejumlah gangguan kesehatan, termasuk gangguan jantung berat yang menyebabkan cairan masuk ke dalam saluran pernapasan.
Riwayat diabetes yang dimiliki Sutrimo juga menjadi salah satu kondisi kesehatan yang diketahui keluarga dan masyarakat. Ketua RT setempat mengatakan, masyarakat memang mengetahui Sutrimo memiliki riwayat penyakit gula sejak lama.
Namun, menurut Ketua RT, kondisi Sutrimo sebelum meninggal tidak menunjukkan keluhan kesehatan yang mengkhawatirkan. Bahkan, beberapa jam sebelum kejadian, Sutrimo masih berkomunikasi dengan rekannya.
“Masyarakat tahu almarhum memang punya riwayat gula dari dulu. Sebelum kejadian, dari malam masih kontak sama temannya dan subuh jam 3 lebih masih kirim foto makan sahur, tidak ada keluhan apa-apa,” ujar Ketua RT tersebut.
Keterangan itu memberikan gambaran mengenai kondisi Sutrimo sebelum meninggal. Meski demikian, kondisi tersebut belum dapat digunakan untuk memastikan penyebab kematian.
Kepala Desa Wlahar, Narsim, mengatakan informasi awal yang diterima keluarga ketika jenazah Sutrimo tiba dari Jakarta menyebut korban meninggal akibat serangan jantung atau yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai “angin duduk”.
“Informasi awal yang diterima keluarga saat jenazah tiba itu karena angin duduk, sehingga warga mengira almarhum meninggal secara wajar karena kondisi kesehatan yang mendadak drop,” ujar Narsim.
Di sisi lain, pemeriksaan awal setelah ekshumasi disebut tidak menemukan bekas luka yang menunjukkan adanya kekerasan menggunakan benda tumpul maupun benda tajam.
Meski demikian, pemeriksaan tidak berhenti pada pemeriksaan fisik. Penyidik dan tim forensik tetap mengambil sampel organ untuk mengetahui kondisi tubuh Sutrimo secara lebih mendalam.
Sampel tersebut selanjutnya menjalani pemeriksaan laboratorium, termasuk toksikologi dan histopatologi. Pemeriksaan toksikologi bertujuan mengetahui kemungkinan adanya zat tertentu di dalam tubuh, sedangkan histopatologi digunakan untuk memeriksa kondisi jaringan tubuh secara mikroskopis.
Hasil pemeriksaan tersebut nantinya akan menjadi bagian penting dalam menentukan penyebab kematian secara ilmiah.
Dengan demikian, keberadaan busa di mulut maupun riwayat diabetes Sutrimo belum dapat dijadikan kesimpulan tunggal mengenai penyebab kematiannya. Keduanya merupakan bagian dari informasi medis yang perlu dilihat bersama temuan forensik lainnya.
Keluarga dan masyarakat Desa Wlahar kini menyerahkan proses penyelidikan kepada kepolisian. Mereka berharap pemeriksaan laboratorium dapat memberikan kepastian mengenai penyebab kematian Sutrimo. (Tim/TI)